Kamis, 17 Mei 2012

Landasan Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Landasan atau dasar program merupakan suatu keputusan awal dan menentukan yang harus diambil oleh pemegang kebijakan pendidikan di sekolah bagi terwujudnya suatu program bimbingan dan konseling sekolah. Merancang keputusan dasar yang kuat memerlukan usaha kerjasama semua unsur dan personel sekolah, termasuk dengan orang tua dan masyarakat, sehingga program bimbingan dan konseling bisa diterima dan memberikan manfaat bagi semua siswa. Dengan demikian, selama tahap pengembangan program bimbingan dan konseling, para stakeholder hendaknya bermusyawarah untuk menentukan filosofi, misi dan fungsi dan isi keseluruhan program. Dasar pengembangan program yang lengkap merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa program bimbingan dan konseling sekolah menjadi suatu bagian utuh dari seluruh program pendidikan untuk keberhasilan para siswa.
        Proses penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah dilakukan melalui delapan tahap aktivitas, yaitu :
1)      mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan;
2)      menganalisis harapan dan kondisi sekolah;
3)      menganalisis karakteristik dan kebutuhan siswa;
4)      menganalisis program, pelaksanaan, hasil, dukungan serta faktor-faktor penghambat program sebelumnya;
5)      merumuskan tujuan program baik umum maupun khusus;
6)      merumuskan alternatif komponen dan isi kegiatan;
7)      menetapkan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan program, dan
8)      merumuskan rencana evaluasi pelaksanaan dan keberhasilan program.

1)     Mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan;
Mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan baik tingkat institusi (sekolah) maupun nasional dimaksudkan agar pengembangan program bimbingan dan konseling sekolah tidak bertentangan dengan kebijakan umum yang berlaku dan ditentukan oleh pemerintahan pusat, daerah maupun sekolah sebagai tempat implementasi program. Karena itu,  sebelum memulai melakukan penyusunan program konselor perlu mengkaji terlebih dahulu produk-produk kebijakan  yang berlaku. Sebagai contoh dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak mungkin suatu sekolah menggunakan standar kurikulum selain yang ditentukan dan diberlakukan secara nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS).

2)    Menganalisis harapan dan kondisi sekolah;
Menganalisis harapan dan kondisi sekolah  merupakan langkah yang harus dilakukan konselor untuk mengetahui keadaan, kekuatan, kelemahan atau kekurangan sekolah. Sangat tepat jika dilakukan analisis dengan teknik SWOT (Strengt, Weakness, Oppornuty, Treath),  sehingga dapat diketahui secara tepat  kekuatan, kelemahan, peluang atau kesempatan, dan ancaman yang dihadapi sekolah. Dalam melakukan analisis ini, jika diperlukan sekolah dapat meminta bantuan tenaga ahli. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai sekolah ditetapkan berdasarkan atas kebijakan yang berlaku dan analisis kondisi sekolah.

3)    Menganalisis karakteristik dan kebutuhan siswa;
Program bimbingan dan konseling merupakan rancangan aktivitas dan kegiatan yang akan memfasilitasi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Artinya, program bimbingan dan konseling di sekolah harus menyediakan sistem layanan yang bermanfaat bagi kemajuan akademik, karir dan perkembangan pribadi-sosial para siswa dalam menyiapkan dan menghadapi tantangan masa depan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan bangsanya di masa depan. Berdasarkan itu semua, maka semua pemegang kebijakan pendidikan di sekolah lebih memahami karakteristik dan kebutuhan siswa yang merupakan subjek layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
         Data atau informasi tentang karakteristik dan kebutuhan siswa merupakan komponen atau faktor-faktor yang berkaitan dengan penentuan tujuan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Data yang sudah terkumpul  perlu dianalisis secara cermat dan komprehensip (menyeluruh), untuk kemudian ditafsirkan dan diimplementasikan dalam beberapa alternatif rencana program bimbingan dan konseling di sekolah. Alternatif program tersebut harus dievaluasi dan dipilih mana yang memiliki peluang paling besar untuk mencapai tujuan, tetapi paling hemat dalam menggunakan tenaga, waktu, dan biayanya.


4)        Menganalisis program, pelaksanaan, hasil, dukungan serta faktor-faktor penghambat program sebelumny

Sebelum alternatif program bimbingan dan konseling yang dipilih dilaksanakan, konselor perlu menjabarkan secara rinci program itu sampai dengan tahap-tahap pelaksanaannya. Dalam setiap tahap pelaksanaan, paling tidak harus jelas mengenai: (1) sasaran yang ingin dicapai, (2) kegitan yang akan dilakukan, (3) siapa pelaksana dan penanggung jawabnya, (4) kapan waktu pelaksanaanya, dan (5) sarana atau pra sarana dan dana yang diperlukan.

5) Sistem manajemen program bimbingan dan konseling
            Apakah suatu sekolah dapat melaksanakan layanan bimbingan dan konseling tanpa membuat suatu program kegiatan bimbingan dan konseling? Misalnya, pada suatu sekolah hanya memiliki seorang konselor yang memiliki kompetensi dan kualifikasi professional sebagai konselor, sedangkan guru mata siswaan, wali kelas dan staf  sekolah lainnya dan tidak ikut melibatkan diri dalam kegiatan  layanan bimbingan dan konseling. Cara kerja dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling seperti ini  tidak menunjukan adanya suatu kelompok bimbingan dan konseling (team work) yang sinergis. Cara kerja dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling semacam ini bisa saja dilaksanakan tetapi tidak memiliki dampak yang positif dalam membantu perkembangan opkelompokal siswa. Tanpa perencanaan program, layanan bimbingan dan konseling tampaknya praktis dan simpel, tetapi mempunyai banyak kelemahan diantaranya : 1) program yang tidak didasari pemikiran secara  matang mengakibatkan program kurang dapat dipertanggung jawabkan, 2) tidak ada kontinyuitas  dalam pelayanan,   3) sukar untuk mengevaluasi kerja yang telah dilalukan. Apakah pelayanan itu betul-betul relevan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada, akan lebih sukar dilakukan pengecekan. Dengan membuat rencana program bimbingan dan konseling, layanan kepada subjek sasaran akan lebih baik, kebutuhan dapat dilayani, di samping tenaga dan fasilitas lain dapat dimanfaatkan secara efisien.
            Program bimbingan dan konseling memuat unsur-unsur yang terdapat dalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah seperti: (1) visi dan misi, (2) tujuan, (3) kegiatan, (4) strategi dan atau teknik, (5) pelaksana dan penanggung jawab, (6) waktu, (7) tempat, (8) biaya dan fasilitas lainnya, (9) rencana evaluasi. Murro & Kottman (1995) mengemukakan bahwa struktur program bimbingan komprehensif diklasifikasikan ke dalamempat jenis layanan yaitu (a) layanan dasar bimbingan, (b) layanan responsif, (c) layanan perencanaan individual, (d) dukungan sistem.

A.      Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi siswa melalui kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya secara opkelompokal.
Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya membantu siswa agar:
1.    Memiliki kesadaran, pemagahaman diri tentang diri dan lingkungan
2.    Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang tepat
3.    Mampu menangani atau mamanuhi kebutuhan dan masalahnya, serta mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

B.       Layanan responsif
Komponen layanan responsif dalam program bimbingan dan  konseling sekolah, terdiri atas kegiatan-kegiatan untuk menemukan kebutuhan dan persoalan yang tengah dihadapi siswa. Penyelesaian kebutuhan atau persoalan ini memerlukan konseling, konsultasi, pengalihan, fasilitasi maupun informasi dari teman sebaya. Komponen ini disediakan bagi seluruh siswa dan seringkali siswa diberi inisiasi melalui self-referral. Bagaimanapun guru, orangtua/wali dan orang lain bisa juga membantu siswa. Walaupun konselor sekolah memiliki keterampilan dan pelatihan khusus dalam merespon kebutuhan dan persoalan semacam ini, kerjasama dan dukungan dari seluruh pihak sekolah dan seluruh staf tetap diperlukan bagi suksesnya implementasi program layanan responsif.
Layanan responsif disampaikan melalui strategi-strategi seperti,
konsultasi: konselor berkonsultasi dengan orangtua/wali, guru, tenaga pendidik lain atau dengan agen masyarakat mengenai strategi untuk membantu siswa dan keluarga. konselor tampil sebagai advokat bagi siswa.
    Konseling individual dan kelompok kecil: konseling diberikan dalam suatu kelompok kecil atau atas dasar individual bagi siswa dalam mengungkapkan kesulitasn-kesulitan yang berkenaan dengan hubungan, masalah pribadi atau tugas-tugas perkembangan pribadi mereka. konseling individual dan kelompok kecil membantu siswa dalam mengidentifikasi masalah, sebab-sebab, alternatif, dan konsekuensi yang mungkin terjadi, sehingga mereka dapat mengambil tindakan yang tepat. konsleing semacam ini pada dasarnya berjangka pendek. konselor sekolah tidak memberikan terapi. jika diperlukan, pengalihan dibuat terhadap sumber-sumber masyarakat yang tepat.
     Konseling krisis : konseling krisis memberikan pencegahan, intervensi dan tindak lanjut. Konseling dan dukungan diberikan pada siswa dan keluarga dalam menghadapi situasi darurat. Konseling semacam ini biasanya jangka pendek dan bersifat sementara, saat dibutuhkan, pengalihan dapat dibuat terhadap sumber-sumber masyarakat yang tepat. Konselor sekolah dapat memegang peran sebagai pemimpin dalam proses intervensi krisis suatu kelompok dalam lembaganya.
     Alih tangan (referal) : konselor menggunakan sumber acuan untuk menangani kasus krisis seperti keinginan bunuh diri, kekerasan, pelecehan, depresi dan kesulitan keluarga. sumber acuan ini bisa meliputi agen-agen kesehatan mental, tenaga kerja dan program pelatihan, layanan bagi remaja serta layanan sosial dan kemasyarakatan lainnya.
Fasilitasi oleh teman sebaya : banyak konselor melatih siswa sebagai perantara teman sebaya, manajer konflik, tutor maupun mentor. Teknik-teknik pemecahan masalah dan resolusi konflik digunakan untuk membantu siswa belajar bagaimana mereka bergaul dengan orang lain. Melalui perantara teman sebaya, siswa dilatih dalam suatu sistem agar berguna bagi teman terdekatnya yang sedang memiliki masalah dalam bergaul dengan orang lain.

C.      Perencanaan individual
Dalam perencanaan individual, konselor sekolah mengkoordinasikan kegiatan secara sistemik dan berkelanjutan serta dirancang untuk membantu siswa secara individual dalam menetapkan tujuan pribadi dan mengembangkan rencana mereka di masa depan. Konselor sekolah mengkoordinasikan kegiatan bantuan bagi seluruh rencana siswa, mengawasi dan menangani proses belajar siswa termasuk menemukan kompetensi dalam area akademis, karir dan perkembangan pribadi-sosialnya. Dalam komponen ini siswa mengevaluasi tujuan edukasional, okupasional dan tujuan personal mereka. Konselor sekolah membantu siswa membuat pilihan dari sekolah ke sekolah, sekolah ke pekerjaan maupun sekolah ke pendidikan tinggi atau karir setelah mereka lulus dari suatu sekolah.
Aktivitas ini umumnya disampaikan atas suatu dasar individual atau dengan bekerja sama dengan individu lain dalam kelompok kecil maupun kelompok penasehat. Orangtua atau wali bersama personil sekolah lainnya seringkali terlibat dalam aktivitas semacam ini. Penyampaian sistematis tentang perencanaan individual bagi tiap siswa meliputi strategi yang terdokumentasi bagi keberhasilan siswa.
Perencanaan individual bagi siswa diimplementasikan melalui beberapa strategi sebagai berikut:
1)   Penilaian indiuvidual/kelompok kecil: konselor sekolah mengadakan analisis dan evaluasi terhadap kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi siswa. uji informasi dan data lainnya sering digunakan sebagai dasar bagi pemberian bantuan pada siswa dalam mengambangkan rencana jangka pendek dan jangka panjang mereka.
2)   Pemberian saran pada individual/kelompok kecil: konselor sekolah memberi saran pada siswa dengan menggunakan informasi pribadi/ sosial, karir dan pasar tenaga kerja dalam perencanaan tujuan pribadi, edukasional dan okupasional siswa. keterlibatan siswa, orangtua/wali dan pihak sekolah dalam merencanakan program siswa yang sesuai dengan kebutuhan mereka merupakan hal yang penting.

D.      Dukungan sistem
Dukungan sistem terdiri atas aktivitas manajemen yang membentuk, memelihara dan meningkatkan efektivitas serta efisiensi bimbingan dan konseling sekolah secara keseluruhan. Konselor sekolah menggunakan keterampilan kepemimpinan serta advokasi mereka untuk mempromosikan perubahan yang sistemik dengan cara berkontribusi dalam aspek-aspek seperti dibawah ini,
a) pengembangan profesional: konselor sekolah terlibat secara rutin dalam memperbaharui dan membagi pengetahuan serta keterampilan profesional mereka melalui :
1)   Pelatihan in-servis : konselor sekolah menghadiri pelatihan in-servis sekolah untuk menjamin keterampilan mereka akan diperbaharui di bidang pengembangan kurikulum, teknologi dan analisis data. Mereka juga diberikan pengajaran in-servis yang ada dalam kurikulum bimbingan dan konseling sekolah serta bidang-bidang lainnya yang berkaitan dengan sekolah dan masyarakat.
2)   Keanggotaan asosiasi profesional : seiring dengan konsep dan orientasi bimbingan dan konseling sekolah yang terus berubah dan berkembang, konselor sekolah dapat meningkatkan  kompetensi mereka dengan cara mengikuti konferensi dan pertemuan-pertemuan  asosiasi profesional.
3)  Pendidikan pasca kelulusan: sejalan dengan penyelesaian rangkaian pekerjaan di sekolah, konselor sekolah hendaknya menambah wawasan dan kemampuan dengan mengikuti pendidikan lanjutan yang berkontribusi terhadap kualitas profesinya.
b)     Konsultasi, kolaborasi dan pembentukan kelompok: melalui konsultasi, pembentukan partner, kolaborasi dan pembentukan kelompok, konselor sekolah memberikan kontribusi penting bagi sistem sekolah.
1)  Konsultasi: konselor hendaknya berkonsultasi dengan guru, staf sekolah dan orangtua/wali siswa secara rutin dengan tujuan untuk memperoleh informasi, memberi dukungan pada komunitas sekolah dan untuk menerima umpan balik atas kebutuhan siswa.
2)   Pembentukan partner dengan staf, orangtua/wali serta masyarakat terkait: hal ini melibatkan orientasi staf, orangtua/wali, dunia bisnis dan industri, organisasi sosial serta anggota masyarakat dalam program konseling sekolah yang komprehensif melalui aktivitas seperti partnership, media lokal, surat kabar, dan presentasi.
3)   Pengembangan jaringan: aktivitas yang termasuk dalam area ini dirancang untuk membantu konselor agar mendapat pengetahuan tentang sumber daya dalam masyarakat, agen referral, situs-situs, kesempatan kerja dan informasi tentang bursa kerja lokal. hal ini bisa juga mencakup kunjungan konselor ke lembaga bisnis-bisnis lokal, industri dan agen atas dasar kebiasaan.
4   Badan penasehat : konselor sekolah aktif dalam pelayanan di badan-badan penasehat, komite masyarakat dan sebagainya dengan cara mendukung program-program lain di dalam sekolah dan masyarakat,  maka konselor sekolah akan mendapatkan dukungan bagi program bimbingan dan konseling sekolah.

c)      Manajeman dan operasi program: aktivitas ini mencakup perencanaan dan tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas yang dilaksanakan dalam program bimbingan dan konseling sekolah mencakup juga tanggung jawab yang harus dipikul sebagai anggota staf sekolah.
1)    Aktivitas manajeman: meliputi pembiayaan, fasilitasi, kebijakan dan prosedur, serta penelitian dan pengembangan sumber daya.
2)  Analisis data: konselor menganalisis kaitan antara prestasi siswa dan program bimbingan dan konseling. Kegiatan ini berguna untuk mengevaluasi program bimbingan dan konseling, melakukan penelitian terhadap aktivitas yang dihasilkan serta menemukan jurang pemisah antara kelompok-kelompok siswa yang perlu diluruskan. Analisis data membantu pengembangan program bimbingan dan konseling sekolah beserta sumber-sumber di dalamnya.
3)   Pembagian tanggung jawab secara adil: sebagai anggota dalam sistem pendidikan, konselor sekolah harus menampilkan pembagian tanggung jawab secara adil.

1.    Program Evaluasi

Evaluasi program bimbingan dan konseling bukan merupakan kegiatan akhir. Artinya, kegiatan evaluasi merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan atau lebih tepat bila dikatakan siklus sebab tidak berhenti sampai terkumpulnya data atau informasi, tetapi data atau informasi itu digunakan sebagai dasar kebijakan atau keputusan dalam pengembangan program bimbingan dan konseling selanjutnya. Karena itu kegiatan evaluasi program bimbingan dan konseling hendaknya memperhatikan prosedur dan langkah-langkah serta metoda atau strategi yang harus digunakan.
Prosedur evaluasi, yaitu meliputi serangkaian kegiatan yang berurut sebagai berikut :
a.  Identifikasi tujuan yang akan dicapai
Melakukan identifikasi terhadap tujuan yang ingin dicapai sangat  penting karena memberikan arah pekerjaan yang akan dilaksanakan. Artinya selama melakukan evaluasi tetap mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan. Langkah awal kegiatan evaluasi adalah menetapkan parameter atau batasan-batasan yang akan dievaluasi, dapat dipusatkan pada program bimbingan dan konseling secara keseluruhan atau pada tujuan khusus secara terpisah-pisah. Tujuan itu hendaknya jelas, singkat, operasional dan dapat diukur.

b.  Pengembangan rencana evaluasi
Pengembangan rencana evaluasi merupakan langkah lanjutan setelah menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Komponen-komponen rencana evaluasi program bimbingan dan konseling yang perlu dikembangkan antara lain:
1)      data atau informasi yang dibutuhkan;
2)     alat pengumpulan data yang digunakan;
3)      sumber data atau informasi yang dapat dihubungi;
4)     personel pelaksanaan;
5)      waktu pelaksanaan;
6)       kriteria penilaian; dan
7)     bagaimana pelaporan dan pada siapa laporan itu disampaikan.

c.        Pelaksanaan Evaluasi
Setelah rencana itu disusun dan disetujui, pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling dan konseling dan konseling dan konseling dan konseling bergantung pada cara/metoda yang digunakan. Prinsip pelaksanaan evaluasi perlu memperhatikan faktor-faktor yang telah direncanakan sehingga terjadi berinteraksi antara faktor yang satu dengan lainnya dan dapat membantu pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

d.      Pelaporan dan Pemanfaatan Hasil Evaluasi
Pelaporan dan pemanfaatan hasil evaluasi dianggap sangat penting sebab langkah ini merupakan bentuk konkrit sikap akuntabilitas atas program dan hasil kegiatan yang telah dilakukan seorang konselor beserta staf yang lainnya. Hasil kegiatan evaluasi yang baik adalah yang dapat memberikan sumbangan pertimbangan dalam membuat kebijakan dan keputusan selanjutnya. Program bimbingan dan konseling  itu diganti, diubah atau dikembangkan semata-mata berdasarkan hasil evaluasi. 
(GALIH JALU DWI.N 101014230)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar